

Pada pertemuan multipihak yang melibatkan unsur petani, pengusaha, pemerintah, NGO dan akademisi Desember 2019, dibentuklah wadah komunikasi awal berupa media sosial grup whatsapp yang sementara hanya melibatkan unsur petani, dinas pertanian dan JakerPO.
Proses kumunikasi berjalan dengan muatan saling memberi informasi, diskusi dan merencanakan agenda kegiatan bersama sebagai bentuk keseriusan untuk mengawal pemasaran bersama dan kerjasama petani dengan sektor swasta. Selain itu juga ingin mendorong pemerintah dan sektor swasta dalam memformulasikan bentuk aturan hukum yang dapat melindungi petani terkait dengan hasil panen yang diperoleh.
Keinginan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan pada 29 Januari 2020 bertempat di Rumah Teh Raja kompleks alun-alun kota Ngawi. Pertemuan ini diawali dengan ekplorasi persoalan kerjasama yang selama ini dirasakan oleh petani. Berbagai hambatan dan pengalaman keberhasilan dalam pemasaran dituangkan dalam curah pendapat dan kemudian disimpulkan untuk mencari solusi terbaik serta ditindaklanjuti dengan rangkaian kegiatan bersama yang didukung oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi.
Proses panjang diskusi menghasilkan rumusan berupa dibentuknya Konsorsium Beras Ngawi. Pembentukan konsorsium tersebut sementara memilih pengurus yang terdiri dari pelindung, penasehat, ketua, sekretaris, bendahara dan beberapa bidang. Pengurus sementara ini akan intensif berkomunikasi melalui media sosial untuk menyiapkan kelengkapan organisasi dan penjadwalan untuk melakukan pertemuan-pertemuan lanjutan.
Disepakati juga bahwa dalam konsorsium ini akan membagi peran sebagai berikut :
1. Pengurus dalam konsorsium bertugas lebih pada penyiapan dan pengelolaan produksi padi serta proses pemasaran ke titik-titik yang diangap potensial.
2. Dinas berperan lebih pada memberi arahan dan komunikasi horisontal dengan lintas sektor di pemerintahan serta komunikasi vertikal dengan pemegang kebijakan struktural dalam pemerintahan.
3. JakerPO lebih kepada memberi dampingan dan konsultasi dalam proses berjalannya konsorsium.
Peran ini bersifat kondisional, artinya akan berubah seiring dengan kondisi dan kebutuhan konsorsium. Rumusan dan kelengkapan organisasi akan dibahas pada pertemuan berikutnya bersamaan dengan agenda pengumpulan data pasti produksi dari setiap petani atau kelompok tani yang sudah masuk dalam daftar konsorsium.
-key-

Bertempat di rumah makan Notosuman Ngawi Jawa Timur (19/12/2019) sejumlah komunitas dan kelompok tani organik Kabupaten Ngawi berdiskusi tentang bisnis komoditas organik utamanya beras bersama pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi dan lembaga kemasyarakatan. Pada acara ini Dinas Pertanian Ngawi menyampaikan tentang perkembangan pertanian organik Ngawi selama kurun waktu 10 tahun terakhir dan daya dukung yang dilakukan dinas terhadap aktivitas ramah lingkungan ini.
Presentasi dinas diperkuat secara akademis oleh paparan Prof. DR.Ir. Suntoro, MS yang sudah sejak lama sudah melakukan upaya bersama membangun pertanian organik yang bukan hanya berorientasi pada kelestarian lingkungan dan nilai ekonomis petani saja, tetapi juga bagaimana pertanian ini memberikan kontribusi positif terhadap seisi dunia. Bisnis yang dipaparkan oleh profesor ahli ilmu tanah ini mengacu pada 8 perilaku Nabi Muhammad, yaitu 1. Berpendirian teguh, 2. Memiliki semangat kerja yang tinggi, 3. Jujur, 4. Menjunjung tinggi amanah yang diberikan orang lain, 5. Menghadapi semua rintangan dalam perjalanan, 6. Menyamakan pelayanan kepada pembeli, 7. Percaya diri, 8. Bersikap ramah dan sopan.
Hadir pula narasumber dari sektor swasta yaitu Adi, dari PT Agri Boga Mas yang menyampaikan bagaimana cara menjalin hubungan bisnis antara petani atau kelompok dengan perusahaan. Inti yang disampaikan sama dengan hal-hal yang disampaikan oleh Profesor Suntoro, dimana nilai-nilai yang harus dibangun adalah bagaimana kesetaraan dan kejujuran untuk keberlanjutan bersama, sebab semua pihak pasti akan saling membutuhkan.
Nilai-nilai yang dibangun oleh narasumber sebelumnya diperkuat pada sesi narasumber ketiga yaitu Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) yang sudah membangun bisnis padi organik sejak tahun 2012. Sebagai penanggungjawab APPOLI, Hendro selalu menanamkan kepada anggota APPOLI bahwasannya membangun bisnis jangan hanya berorientasi pada tujuan komersil semata, tetapi juga harus membangun sisi sosial yang nilainya sangat luar biasa dan tidak pernah bisa diprediksi, sebab dampak aktivitas sosial merupakan balasan yang Maha Kuasa kepada umat manusia.
Disesi terakhir forum menyepakati untuk melanjutkan komunikasi ini untuk membangun komunikasi dan kerjasama untuk membangun pertanian organik kabupaten Ngawi maupun membangun bisnis bersama yang berlandaskan pada unsur-unsur yang menghormati hak azazi manusia.
-key-
MOCAF (Modified Cassava Flour) merupakan modifikasi tepung dari ketela pohon, atau singkong. Tepung mocaf ini dibuat dengan perlakuan fermentasi, sehingga dihasilkan tepung singkong dengan karakteristik mirip terigu yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti terigu atau campuran terigu 30% – 100%. Untuk skala usaha tepung ini dapat menekan biaya produksi hingga 20-30%.
Secara sederhana tepung Mocaf diproduksi melalui beberapa tahapan, yaitu sigkong dipotong-potong, kemudian di fermentasi dengan cara merendam hingga 7 hari, dicuci, dikeringkan kemudian digiling.
Berbeda dengan tapioka yang bertekstur licin karena prosesnya berupa ekstraksi pati dari umbi singkong, tepung mocaf memiliki tekstur yang lebih mirip terigu. Dan karena aktifitas mikroba pada saat fermentasi, rasa pahit dan aroma khas singkong (yang disebabkan oleh kandungan asam sianida / HCN) pada tepung mocaf dapat dihilangkan.
Secara umum ada beberapa keunggulan dari tepung mocaf ini, diantaranya adalah :
Beberapa sumber menyebutkan manfaat mengkonsumsi tepung mocaf, diantaranya adalah, tepung mocaf aman dikonsumsi oleh penderita autis dan balita, sebab tepung mocaf tidak banyak mengandung gluten seperti dalam tepung terigu. Kandungan gizi tepung mocaf tidak begitu berbeda dengan terigu. Hanya saja, pada tepung mocaf lebih sedikit kandungan proteinnya di bandingkan dengan tepung terigu. Pengolahan lebih lanjut menjadi aneka cake dan kue akan mengatasi rendahnya kandungan protein tepung mocaf. Selain itu tepung mocaf juga mengandung fitoestrogen, suatu hormon yang berfungsi untuk mencegah menopause dini yang biasa tejadi pada kaum wanita.
Melihat peluang dari berbagai segi tersebut, Koperasi Serba Usaha Ngudi Makmur Karanganyar Jateng melakukan upaya perluasan produksi tepung Mocaf dengan cara memberdayakan kelompok-kelompok tani di wilayah Kecamatan Jatiyoso, Jumantono, Jumapolo dan Jatipuro Kab. Karanganyar untuk memproduksi tepung Mocaf dan dipasarkan bersama. Sebelum melakukan pemasaran bersama tahapan kegiatan yang dilalui diantaranya adalah dengan Sekolah Lapang Mocaf, studi banding, magang ke industri Mocaf, workshop standarisasi pembuatan tepung Mocaf dan ujicoba pengolahan makanan berbahan dasar tepung Mocaf.
Tidak berhenti sampai disitu, KSU Ngudi Makmur beserta para anggotanya juga mengkampanyekan tentang Mocaf ini dengan cara berjejaring dengan pemerintah, perguruan tinggi dan pihak swasta, serta mengkampanyekannya melalui berbagai media sosial elektronik, siaran radio, acara setingkat kabupaten, provinsi dan pusat.
Deseminasi informasi tepung Mocaf ini menuai respon positif, diantaranya adalah kelompok menerima pesanan tepung dari banyak pihak, menerima tamu untuk belajar atau melihat langsung proses pembuatan tepung Mocaf dan olahannya, serta membuka kelas pelatihan pembuatan tepung Mocaf dan olahannya berskala rumah tangga. Skala rumah tangga ini dimaksudkan agar siapapun yang belajar atau berlatih dapat secara langsung mempraktekannya di tempat masing-masing dengan alat yang sederhana.
Hingga saat ini masih terdapat petani yang belum sepenuhnya menikmati apa yang dihasilkan dari tanah yang ditanaminya. Mereka masih berorientasi pada peningkatan produksi dan menjual apa yang ditanam. Salah satunya adalah petani kakao di beberapa tempat di Gunungkidul Yogyakarta.
Beberapa waktu lalu di beberapa tempat di Kecamatan KarangMojo, Patuk dan Ponjong Gunungkidul, beberapa petani nampak terlibat dalam Sekolah Lapang Kakao (SL Kakao). Kegiatan luar sekolah yang di dampingi Lesman Boyolali dan JakerPO Solo ini bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman kakao sekaligus pengelolaan paska panen hingga menjadi bahan baku makanan dan minuman.
Di sektor produksi petani belajar bersama menemukenali perlakuan terhadap tanaman cokelat yang dimulai dari proses pembibitan hingga perawatan. Sementara di paska panen petani diajari bagaimana mengolah biji kakao hingga menjadi biji siap jual dan pengolahan cokelat untuk dijadikan bahan pembuat aneka makanan dan minuman.
“Wah, ternyata enak juga ya minuman cokelat ini,” kata seorang petani peserta kegiatan SL Kakao. Selama bertahun-tahun menanam kakao, baru kali ini ia menikmati lezatnya biji cokelat yang ditumbuk dan dijadikan minuman instant. Meskipun diolah dengan cara sederhana menggunakan alat masak yang dimiliki oleh masyarakat desa, namun bubuk cokelat ini terasa lezat. Jelas saja, sebab cokelat bubuk ini dibuat dengan tidak menghilangkan lemak cokelat yang terkandung didalamnya. Sementara banyak bubuk cokelat yang dijual ditoko-toko bahan makanan diolah dengan cara menghilangkan lemak cokelatnya. Disamping itu seringkali bubuk cokelat yang dijual bebas tersebut sudah dicampur dengan bahan tertentu termasuk penguat rasa cokelat. Hal ini pun diakui oleh ahli kakao asal Filipina yang pernah berkunjung ke Kelompok Tani kakao Ngudi Mulyo Gunungkidul. Cita rasa cokelat asli masih sangat kuat.
Pengalaman dan ujirasa ini membuat semangat kelompok semakin kuat untuk memproduksi aneka
olahan makanan berbahan cokelat. Salah satunya adalah Ari. Beberapa resep makanan cokelat dicoba dan disajikan dalam beberapa acara lokal dan kunjungan tamu dari selururh Indonesia dan negara asing. Bukan karena disajikan cuma-Cuma, tetapi memang aneka olahan pangan cokelat ini sangat bercita rasa cokelat asli dan sangat kuat, sebab memang bahan baku yang digunakan orisinil, tidak menggunakan campuran komplementer serta tetap mempertahankan lemak cokelat sebagai penguat rasa yang sesungguhnya.
Ditahun 2017 ini kelompok berupaya untuk mengembangkan aneka olahan yang ada dan didukung dengan alat yang memadai sebagai salah satu aktivitas dan penguat kelompok untuk menghasilkan panganan cokelat yang berkualitas. Dengan menggandeng beberapa ahli kemasan dan marketing, kelompok akan mengupayakan pembenahan kemasan dan promosi melalui berbagai media yang dapat digunakan.
by -key-
Empat puluh petani dari Kecamatan Patuk, Karangmojo dan Ponjong Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta diundang oleh BPPT Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan pengolahan cokelat di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran Gunungkidul. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kerjasama antara KT Ngudi Mulyo Patuk Gunungkidul dalam upaya meningkatkan kapasitas petani dalam mengolah biji kakao menjadi produk pangan bernilai tinggi.
Petani diajak untuk melihat dari dekat proses pengolahan biji kakao dari mulai biji terfermentasi hingga menjadi produk seperti bubuk cokelat, pasta, hingga permen cokelat. Meskipun teknologi yang digunakan dalam proses tersebut menggunakan alat yang relatif modern, tetapi pelatih dalam kegiatan tersebut juga memberikan cara pengolahan dengan menggunakan alat yang sederhana, sehingga petani tidak berkecil hati saat akan mencobanya di kelompok masing-masing.
“Kami akan tetap mencoba mempraktekkan kegiatan ini setelah pulang ke rumah masing-masing”, kata Pairan, Ketua KT Ngudi
Mulyo, sesaat ketika memberikan tanggapannya sebelum kegiatan selama satu hari ini ditutup. Petani berencana sedikit demi sedikit mengolah hasil kakao fermentasinya untuk meningkatkan nilai jual dari produk yang mereka hasilkan.
Dengan didampingi Setiyo dan Eko BD dari Lesman Boyolali, perwakilan kelompok kemudian berbincang dengan pengelola TTP untuk menjajagi kemungkinan kerjasama petani kakao dalam hal pasokan maupun pengolahan cokelat.
Komentar tulis dibawah ini